BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
1.1 .1
Presentasi tentang proyek
Sebelum
mengerjakan suatu proyek, kita juga harus melakukan yang namanya
presentasi
tentang proyek itu sendiri.Hal ini dilakukan supaya apabila nantinya ada
sesuatu yang mungkin kurang tepat dalam penyampaiannya dapat dilakukan
pembenahan kembali. Presentasi proyek yang akan dijalankan sebaiknya
melibatkan
banyak pihak karena melalui presentasi ini banyak pendapat-pendapat yang
dapat
membantu menyempurnakan proyek kita. Dalam presentasi ini juga kita
dapat
mempromsikan proyek kita sehingga pihak-pihak yang menjadi audiens
merasa yakin
dan dapat membantu mengerjakan proyek ini menjadi lebih baik.Dan
pendapat-pendapat mereka inilah yang nantinya dapat menjadi tolak ukur
keberhasilan dalam perencanaan proyek kita.
Dalam
penyampaian presentasi harus diperhatikan etika penulisan yang benar
karena
untuk menyakinkan pihak-pihak yang ikut dalam presentasi ini.Apabila
dalam
penyampaiannya sudah tidak beretika atau kurang sopan maka yang menjadi
audienpun menjadi tidak bersemangat.Yang menjadi moderatorpun juga
demikian
karenayang dilihat bukan hanya penyampaiannya tetapi juga etika dalam
penyampaiannya.
1.1.2 Wawancara
dengan pihak terkait
Selain melalui presentasi,
informasi juga dapat diperoleh lewat
wawancara langsung dengan pihak-pihak terkait. Dalam suatu wawancara
harus
diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
·
Tujuan
wawancara harus jelas (Purposes);
·
Buat daftar
hal-hal yang ingin ditanyakan dan berhubungan
langsung dengan proyek (Enumerating activities);
·
Harapan
dari pemakai akhir (Work methods and
Interconnections among users);
·
Harapan
dari pemberi order (Performance issues);
·
Punya
pandangan yang lebih jauh melebihi yang diwawancara.
Sebuah wawancara harus memiliki
tujuan.Apa yang hendak dicapai harus
jelas. Setelah tahu apa yang hendak dicapai, pewawancara harus membuat
daftar
pertanyaan sebagai arahan pada saat mewawancarai. Tidak boleh dilupakan
dalam
wawancara, harus juga dilibatkan bagaimana sebenarnya produk dari proyek
akan
dihasilkan. Apa implikasinya terhadap pengguna dan perusahaan, dan
bagaimana
akan diperoleh hasil terbaik. Lebih jauh dari ini semua, seorang
pewawancara
harus memiliki pandangan yang jauh, sehingga tidak kehilangan arah
pertanyaan
dan didikte oleh lawan bicaranya pada saat wawancara.
BAB II
PEMBAHASAN
Seorang
manajer proyek, seperti telah disinggung dalam bab terdahulu, memiliki
tugas
untuk mencari keseimbangan antara teknologi, konsep, biaya, dan waktu
dalam
penyelesaian proyek. Peran ini dapat dipenuhi secara efektif apabila dia
mampu
untuk:
o
Berperan
sebagai
manajer yang berpengertian (ikuti langkah-langkah positif manajer
sebelumnya);
o Mendelegasikan tugas bila
diperlukan;
o Komunikasi antara atasan dan
bawahan;
o Mengingat peran serta client atau
pemakai akhir;
o Memfokuskan diri pada hasil
akhir sesuai tujuan.
Apabila hal ini dapat dipenuhi maka
proyek akan berjalan sesuai dengan
rencana awal dan berhasil dengan baik.
2.2 Contingency Plan
Kadangkala
dalam proses penyelesaian proyek dibutuhkan juga suatu backup-plan
(contingency
plan atau rencana darurat) apabila ternyata terjadi hal-hal di luar
dugaan.
Dengan
rencana darurat ini proyek tetap dapat diselesaikan pada waktunya dan
dalam
batasan biaya yang telah direncanakan.Rencana darurat ini dapat juga
dikatakan
sebagai alternatif pemecahan masalah dan juga harus mendapat persetujuan
dari
pihak pemberi order.Contingency plan dapat disusun bersamaan dengan
riset yang
dilakukan atau dapat dikatakan pula, contingency plan merupakan rencana
alternatif yang diperoleh dari hasil riset.
Ada
baiknya pula rencana darurat disusun sebelum bertemu dengan tim
manajemen atau
pemberi order. Hal ini dikarenakan, mereka sering bertanya hal-hal
mendasar
karena takut investasinya merugi.
Menurut
Djojosoerdarso (2005), manajemen risiko adalah pelaksanaan fungsi-fungsi
manajemen dalam penanggulangan risiko, terutama risiko yang dihadapi
oleh
organisasi/perusahaan, keluarga dan masyarakat. Jadi mencakup
kegiatan merencanakan, mengorganisir, menyusun, dan memimpin, dan
mengawasi
(termasuk mengevaluasi) program penanggulangan risiko.
Jadi manajemen risiko adalah suatu
proses
identifikasi, mengatur risiko, serta membentuk strategi untuk
mengelolanya
melalui sumber daya yang tersedia. Strategi yang dapat digunakan antara
lain
mentransfer risiko pada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek
buruk
dari risiko, dan menerima sebagian maupun seluruh konsekuensi dari
risiko
tertentu.
Adapun dalam manajemen
risiko tujuan yang hendak dicapai adalah:
·
Identifikasi
terhadap risiko;
·
Evaluasi
(analisa) risiko dan (estimasi) pengaruhnya terhadap
proyek;
·
Mengembangkan
responsi terhadap risiko;
·
Mengontrol
responsi risiko
2.2.1 Identifikasi risiko
Identifikasi
risiko terdiri atas pengawasan dan penentuan risiko apa saja yang dapat
mempengaruhi proyek serta mendokumentasikan setiap dari risiko tersebut.
Identifikasi tidak hanya dilakukan sekali, namun harus dilakukan
sepanjang
perjalanan proyek dari awal sampai akhir.
Faktor
internal di dalam serta eksternal di luar proyek harus diidentifikasi.
Faktor
internal antara lain penugasan anggota tim kerja, perhitungan biaya dan
waktu,
serta support dan pengaruh dari tim manajemen. Faktor eksternal antara
lain
melibatkan kebijaksanaan pemerintah, bencana alam, dan hal-hal lain di
luar
kontrol atau pengaruh tim proyek. Identifikasi terhadap risiko harus
melibatkan
pengaruh baik maupun pengaruh buruk dari pengaruh faktor-faktor penentu
risiko.
Dari gambar di atas dapat
dilihat input bagi identifikasi
risiko adalah:
a.
Diskripsi
produk
o Produk yang berbasis pada
teknologi yang telah dibuktikan kebenarannya memiliki risiko yang lebih
kecil
dibandingkan dengan produk yang menuntut inovasi dan penemuan.
b. Rencana proyek
o Work breakdown structure:
pendekatan pada deliverables setiap unit kerja secara detail. Dengan
cara ini
identifikasi terhadap risiko bisa sampai ke level yang sangat detail;
o Estimasi biaya dan waktu:
estimasi yang terlalu kasar dan terburu-buru dapat meningkatkan risiko
proyek.
o Penempatan SDM: setiap
pekerjaan yang spesifik dan hanya dapat dilakukan oleh orang tertentu
meningkatkan
risiko proyek, apabila orang tersebut berhalangan untuk hadir;
o Perekrutan dan
sub-kontraktor: pengaruh ekonomi dan kebijakan politik di sekitar proyek
dapat
menyebabkan fluktuasi nilai kontrak proyek.
c. Informasi historis. hal-hal
yang pernah terjadi di masa lalu, dan berkaitan dengan proyek dapat
dilihat
dari:
o File-file proyek sejenis
dari perusahaan;
o Database komersial,
contohnya: Internet knowledge-bases;
o Ilmu dan pengalaman dari tim
kerja, dikenal juga dengan sebutan: tacit
knowledge.
Untuk teknik yang digunakan
dalam proses identifikasi risiko adalah:
·
Checklist:
dari
informasi (riset, dll) yang diperoleh dapat dibuat checklist yang
mendata
sumber-sumber risiko;
·
Flowcharting:
dapat
digunakan untuk menggambarkan penyebab dan efek dari risiko yang ada;
·
Wawancara:
data-data
yang tersimpan dari hasil wawancara proyek-proyek terdahulu dapat
digunakan sebagai referensi, dan juga masukan dari stakeholders
merupakan
sumber informasi yang berpengaruh untuk mengidentifikasi risiko.
Adapun hasil output dari
pengidentifikasian risiko
adalah:
o Daftar
sumber-sumber risiko
o Yang seringkali menjadi
sumber risiko proyek antara lain: perubahan requirements, kesalahan
design,
pendefinisian peran kerja yang lemah, kesalahan estimasi, dan tim kerja
yang
kurang mapan.
o Pada umumnya penjelasan
mengenai sumber-sumber risiko ini disertai pula dengan: perhitungan
kemungkinan
terjadinya risiko tersebut, kemungkinan akibat dari risiko tersebut,
kemungkinan kapan terjadinya, pengantisipasian tindakan terhadap risiko
tersebut.
o Kejadian
yang berpotensi menjadi risiko:
biasanya merupakan
kejadian-kejadian luar biasa yang jarang terjadi. Contohnya bencana
alam,
perkembangan teknologi baru yang tiba-tiba.
o Tanda-tanda
datangnya risiko (risk symptoms),
sering juga disebut triggers, sebab-sebab yang mengakibatkan
munculnya bencana pada
saat ini.Contohnya biaya yang mengembang pada awal proyek disebabkan
oleh
estimasi yang terburu-buru dan tidak akurat.
o Input pada proses-proses lainnya
identifikasi risiko mungkin
saja menyebabkan diperlukannya pelaksanaan suatu aktivitas di area lain.
Contohnya: bila identifikasi risiko memperkirakan bahwa harga barang
kebutuhan
utama proyek akan naik, maka ada baiknya pada penjadwalan, pembelian
barang
utama tersebut dilakukan di awal proyek.
2.2.2
Kuantifikasi
dan Evaluasi risiko
|
|
Kuantifikasi risiko meliputi
pengevaluasian serta interaksi antara risiko
dan akibatnya.
Input:
o Toleransi
dari stakeholders dan sponsor:
setiap organisasi memiliki
toleransi yang berbeda-beda terhadap risiko. Ada yang hanya 10% dari
modal,
tapi ada juga yang berani hingga 40% dari modal proyek, asalkan proyek
selesai
tepat waktu.
o Sumber
risiko (dibahas di atas);
o Kejadian
yang berpotensi menjadi risiko(dibahas
di atas);
o Estimasi
waktu dan biaya (akan dibahas pada
Manajemen waktu dan biaya);
Teknik:
o Perkiraan
nilai moneter: bagaimana efek
sebuah risiko yang telah dievaluasi
nilainya? Mungkin ada yang risiko yang kemungkinannya kecil, tapi nilai
risikonya dapat membuat proyek berhenti. Ada pula risiko yang
kemungkinannya
besar, tetapi efeknya kecil terhadap jalannya proyek.
o Perhitungan
statistik: menghitung jangkauan
(range) perhitungan minimum dan
maksimum untuk biaya dan penjadwalan kerja proyek.
o Simulasi
model: dengan bantuan model yang
disimulasikan dapat
diketahui estimasi yang lebih tepat, contoh: penggunaan model statistik
Monte
Carlo untuk menghitung estimasi durasi proyek
o Decision
trees: diagram yang memberikan
alur kemungkinan dan
interaksi antara keputusan serta akibatnya.
o Penilaian
ahli: penilaian ahli dapat
digunakan sebagai masukan
tambahan setelah penggunaan teknik-teknik di atas.
Output:
Setelah
dianalisis, manajer proyek harus mampu memutuskan berbuat apa terhadap
risiko
yang mungkin ada. Menerimanya, membuat rencana lanjutan atau mencari
alternatif
lain yang tidak terpengaruh risiko.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari paparan di atas kita
dapat
menyimpulkan bahwa manajemen risiko merupakan kegiatan yang memang harus
dilakukan karena dengan adanya manajemen risiko kita dapat menganalisa
hal-hal
yang mungkin terjadi nanti dalam proyek kita. Dengan menganalisa risiko
yang
mungkin terjadi dapat mengurangi kemungkinan gagal dalam proses
pengerjaan proyek
tersebut sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar